Senin, 08 Agustus 2016

Info Terbit Gratis Komunitas Ayo Menulis dan Goresan Pena Publishing

Assalamualaikum, Sahabat...
Sudah siap untuk kegiatan menulis tahap tiga?
Kali ini, Komunitas Ayo Menulis bekerja sama dengan Goresan pena Publishing memberikan kesempatan kepada sahabat yang berkeinginan memiliki buku sendiri ataupun berdua dengan kawan yang disukai.
Syarat dan ketentuannya:
1. Bergabung dengan grup facebook Komunitas Ayo Menulis.
2. Karya buku tunggal atau duet (maksimal empat penulis dalam satu buku)
3. Tema bebas, tidak mengandung SARA dan pornografi.
4. Bukan hasil plagiasi. Belum pernah dimuat di media lainnya.
5. Gratis biaya penerbitan (lay out, editing satu tahap, desain cover satu kali revisi, dan pendaftaran isbn ke perpusnas).
6. Penulis wajib membeli minimal 10 eksemplar bukti terbit (free ongkir, free e-piagam).

Syarat naskah:
1. Diketik di Word A4 font Arial 11 spasi 1,5 justified.
2. Minimal 50 halaman, maksimal 150 halaman.
3. Naskah boleh berupa novel, cerpen, atau puisi.
4. Kirim ke email melia.shena37@gmail.com dengan subyek sama dengan nama file: KAM(3)_Jenis Naskah_Judul_Nama Penulis
Contoh: KAM(3)_Novel_Rindu_Shena

Buku hasil kegiatan menulis ini nantinya akan dipromosikan secara online melalui facebook, instagram, dan web meliashena.blogspot.com

Tertarik? Ayo segera menulis, siapkan karya terbaik kalian...
Naskah kalian aku tunggu sampai akhir September ya... Masih ada banyak waktu. Yuk, nulis...

Kamis, 14 Juli 2016

Puisi: Lukisan Fajar

Lukisan Fajar (1)
~Melia Shena~

Semburat merah di ufuk timur
Mengundang kokok ayam jantan ; riuh
Menyambut sang fajar dengan senyumnya ramah
Menanti matahari pagi ; harapan baru sambut hari ini

Kaki-kaki kecil bangun, semarakkan pagi
Berlarian di antara semak menuju sungai
Air dingin tiada surutkan niat di hati
Mandi pagi, lalu bergegas rapikan diri

Siapkan hati, bulatkan tekad
Menuntut ilmu t’lah jadi niat
Demi masa depan gemilang
Demi nasib keluarga yang semakin mapan

Ngantang, 14 Juni 2016

Minggu, 10 Juli 2016

Cerpen: Seragam Kinan

“Kinan! Nanti jangan pulang dulu ya? Usai pengumuman kelulusan, kita rayakan bersama di belakang sekolah. Teman-teman sudah menyiapkan pilox juga lho,” ucap Rana.
Kinanti tertegun mendengar ucapan sahabatnya. “Bukannya kita belum tahu nantinya akan lulus atau enggak, kok sudah nyiapin pilox segala?”
“Aah… pasti lulus semua lah… Sekolah kita ini termasuk sekolah unggulan kan? Sudah pokoknya nanti jangan lupa ya, aku tunggu di belakang sekolah!” ujar Rana setengah berteriak. Anak lelaki yang sudah beranjak remaja itu berlari meninggalkan Kinanti yang masih terdiam di tempatnya, menyusul teman-temannya yang mendapat tumpangan gratis sebuah mobil pick up untuk pulang.
Kinanti belum beranjak dari tempat duduknya. Banyak hal yang berkecamuk dalam hati. Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan SMP Negeri I tempatnya menempuh pendidikan selama tiga tahun. Kepala sekolah dan dewan guru sepakat menyampaikan pengumuman pukul 13.00, dan siswa harus didampingi oleh orangtua masing-masing. Hal tersebut untuk menghindari perilaku negatif siswa yang mungkin akan mengadakan konvoi, corat-coret seragam dan hal-hal negatif lainnya.
Tapi yang namanya remaja, selalu ada saja cara mereka untuk lepas dari pengawasan orangtua dan merayakan kelulusan dengan mencoret-coret pakaian. Hal itulah yang kini tengah dirisaukan Kinanti.
Seragam sekolah yang dipakainya sudah lusuh. Warna putihnya sudah mulai pudar sejak dia memakainya tiga tahun lalu. namun seragam itu tak pernah diganti dengan yang baru. Seragam lusuh itu yang menjadi saksi perjalanan Kinanti selama tiga tahun ini, dan Kinanti tak rela jika seragam ini nantinya harus dicoret-coret oleh kawan-kawannya.
Diliriknya jarum jam pada arloji yang melingkar di tangan kirinya. Masih pukul sepuluh seperempat. Siswa kelas sembilan hampir semuanya telah pulang ke rumah masing-masing, kembali ke sekolah lagi nanti, saat pengumuman pukul 13.00. Masih sekitar tiga jam lagi.
Waktu berlalu, Kinanti semakin gelisah. Seragam yang dikenakannya itu sangat disayanginya. Bukan hanya karena menjadi saksi perjuangannya selama tiga tahun ini. Bukan. Lebih dari itu, seragam ini adalah satu-satunya seragam peninggalan Karina, kakak semata wayangnya yang telah meninggal karena kecelakaan pada saat pulang sekolah.
Peristiwa itu terjadi empat tahun yang lalu. Hari terakhir Ujian Nasional SMP. Karina yang lincah dan cerdas telah selesai mengerjakan soal-soal ujiannya. Gembira hatinya karena semua soal yang diujikan sesuai dengan materi yang telah dipelajari dan dihapalkannya selama ini. Dengan canda tawa dia menunggu bus untuk pulang bersama kawan-kawannya. Namun malang tak dapat ditolak. Sebuah truk bermuatan berat melintas dengan cepat di depan sekolah, tepat ketika gadis manis itu menyeberang.
Karina yang malang, tubuhnya terlindas truk yang langsung melarikan diri itu. Gadis manis itu meninggal dunia seketika. Seragamnya berlumuran darah dan sobek-sobek di beberapa bagian.
Beberapa hari kemudian, pengumuman kelulusan menjadi hari paling menyedihkan di SMP Negeri I. Karina menorehkan nilai terbaik di sekolahnya, sedangkan dia sendiri telah tiada.
Seragam Karina menjadi saksi tiga tahun dia belajar di SMP. Seragam itu pula yang kini dikenakan Kinanti, menjadi saksi bisu perjuangannya menyelesaikan pendidikan dasar di SMP Negeri I. Takkan dibiarkannya anak-anak itu nanti mencoret-coret seragamnya, seragam Karina.
“Kinanti, kok belum pulang?” tanya seseorang di belakangnya. Kinanti menoleh.
“Bu Ratna? Ibu sudah mau pulang juga?” Bu Ratna adalah tetangga dekat Kinanti. Rumah beliau hanya berjarak kurang lebih dua puluh meter dari rumah Kinanti.
“Belum, Bu. Masih belum dapat bus,” jawab Kinan.
“Lho, bukannya dari tadi ada banyak bus yang lewat ke arah timur?”
“Mereka tak mau mengangkut anak berseragam, Bu. Mungkin karena kami bayar karcis hanya separuh harga.”
“Oh, iya juga ya,” gumam Bu Ratna. “Kalau begitu, ayo bareng mobil saya saja. Kita kan searah,” ajak Bu Ratna. Tapi Kinanti menolak ajakan ibu gurunya.
“Enggak usah, Bu, terima kasih. Saya nanti bisa pulang sendiri kok,” jawabnya.
“Tapi kamu mau bareng siapa sudah sepi begini?”
“Bentar lagi ada teman yang mau jemput saya kok, Bu.”
“Ya sudah, saya duluan ya… Sampai jumpa pukul satu siang nanti, Kinan!”
“Iya, Bu. Sampai jumpa!” jawab Kinan lirih.
Gadis kecil itu kemudian berdiri dari tempat duduknya, menyeberang, dan terus berjalan. Menjauhi Rana, menjauhi sekolahnya. Rasa takut kehilangan seragam itu telah menjalar ke seluruh tubuhnya. Menggigil, langkah kakinya semakin cepat menuju rerimbunan pinus di seberang jalan. Terus dan terus berlari, tak dihiraukannya onak duri melukai kaki, tak dirasakannya lelah dan gemetar di sekujur tubuhnya. “Mereka tak boleh merusak seragam ini. Seragam peninggalan Karina, seragam yang selalu ingin kupakai untuk mewujudkan impiannya sejak dulu.”
Waktu berlalu. Jarum jam menunjukkan pukul 13.00. siswa-siswi SMPN 01 telah berkumpul di aula didampingi orangtua masing-masing.
“Alhamdulillah, pada tahun ini siswa-siswa SMP Negeri 01 lulus seratus persen.” Ucapan Bapak Kepala Sekolah disambut meriah oleh seisi aula.
“Ujian Nasional tahun ini juga spesial bagi kita. Kenapa? Karena, sekali lagi, salah seorang siswa SMP ini menorehkan tinta emas, mendapat nilai terbaik di Kabupaten Malang. Siswa ini juga merupakan adik kandung dari ananda Karina almarhumah, yang dulu pernah mengharumkan nama SMP negeri ini dengan prestasinya, meski saat itu kita harus berduka karena kehilangannya. Baiklah, saya panggil saja, peraih nilai tertinggi Ujian Nasional tahun ini, Kinanti Larasati!”
Tepuk tangan bergemuruh dalam ruang berukuran seratus dua puluh meter persegi itu. Seluruh siswa mengelu-elukan nama Kinanti. Namun dia yang dinanti seluruh warga sekolah belum juga menampakkan batang hidungnya.
“Ananda Kinanti saya mohon naik ke atas podium untuk menerima penghargaan.”
Seisi aula hening, menunggu gadis mungil yang kini mendapat predikat sebagai siswi terbaik se-kabupaten. Tak ada Kinanti di sudut mana pun di ruangan itu, hanya ada seorang wanita paruh baya yang berdiri dari tempat duduknya. Bu Narmi.
“Maaf, Bapak Kepala Sekolah. Anak saya Kinanti, belum pulang dari sekolah sejak pagi tadi.”
Hening mencekam. Wajah bapak kepala sekolah pucat. Kenangan buruk masa lalu sekolah itu seakan terpampang di hadapan setiap orang. Mungkinkah sejarah berulang? Karina yang meninggal saat meraih nilai terbaik di kabupaten, dan sekarang Kinanti adiknya, menghilang di saat dia meraih nilai tertinggi.
Rana gemetar, pilox yang ada dalam genggaman dilemparkannya sejauh mungkin. “Seragam itu… Pasti Kinanti pergi karena seragamnya hendak dicoret-coret dengan pilox. Ya, itu seragam kakaknya. Seragam dengan beberapa jahitan dan warna putih yang memudar. Dia mengenakannya sejak awal masuk sekolah. Bukankah setiap siswa mendapat jatah pakaian baru? Dia tak pernah memakai seragam baru. Itu seragam Karina, kakaknya. Begitu kan, Bu Narmi?” teriaknya.
Bu Narmi terisak. “Jadi kalian semua berencana mencoret-coret seragam hari ini? Bukankah sudah ada himbauan dari sekolah agar tak ada siswa yang mencoret-coret seragamnya? Iya, Kinanti memang tak pernah memakai seragam barunya. Seragam itu sudah disumbangkannya ke panti asuhan.”
Jauh dari sekolah itu, tampak seorang gadis kecil berjalan terseok-seok di antara pasir pantai selatan. Embusan angin dan riak-riak air laut tak dihiraukannya. Yang dia tahu hanya satu, menyelamatkan seragam kakaknya dari noda dan coretan-coretan pilox. “Sudah cukup, merah darah yang menodai seragammu, Kak Karin. Tak akan kubiarkan lagi orang-orang menodai seragam ini. Tidak lagi.” Kinanti berjalan semakin jauh ke arah laut.
Tiga hari kemudian, jasad gadis mungil itu ditemukan beberapa nelayan yang sedang melaut. Ya, Kinanti ditemukan tenggelam di laut selatan dengan seragam yang anehnya tampak baru dan putih bersih. Wajahnya pun tampak tersenyum. Ah… mungkin karena dia bangga telah berhasil menyelamatkan seragam kakaknya.[]

Jumat, 13 Mei 2016

Info event terbaru Komunitas Ayo Menulis

Assalamualaikum, Sahabat...
Dibuka kegiatan menulis bersama tahap 2 bersama Komunitas Ayo Menulis, cerpen tema perempuan, puisi tema pendidikan. Syarat naskah:
Cerpen: ukuran kertas A4, font TNR 12 spasi 1,5 justified pake tabulasi. Perhatikan baik-baik untuk penggunaan EYD/EBI. Maksimal 10 halaman untuk satu judul, boleh mengirimkan 2 naskah cerpen terbaik.
Puisi: ukuran kertas A4, font TNR 12 spasi 1,5 maksimal 20 baris dalam satu judul. Boleh mengirimkan 5 naskah puisi. Kirim ke email melia.shena37@gmail.com
Jangan lupa biodata narasi dan foto terbaru kalau ada. Deadline 30 Mei 2016.
Reward 2 buku untuk 2 naskah terbaik. Seluruh kontributor mendapat e-piagam dan diskon minimal 10% untuk pembelian buku terbit.
Ayo segera kirimkan karya terbaikmu ya...

Selasa, 05 April 2016

Puisi Melia Shena: Lembah Aksara

Lembah Aksara
Oleh: Melia Shena


Harum tanah basah senandungkan kidung pilu tentang jiwa-jiwa yang merindu
Tiup dinginnya memeluk persada dalam pekat hawa berkabut

Kala senja datang membayang
Seruak rona merahnya; tebarkan aroma cemas dalam pedihnya perpisahan

Baitbait kata terurai pada tetiap sudut sepi tiada bertepi
Lantun kidung sunyi tiada dapat menawar segala nyeri
Senandungkan rindu pada kekasih hati yang entah di penjuru mana dia sembunyi
;pergi

Sesat di lembah kelam mencekam
Gigil tubuh berselimut rindu dendam
Menanti kekasih yang masih tetap saja diam
;mendekam

Larik demi larik aksara teruntai
Merajut aksara pada rinduan
Lembah aksara saksi bisu kesedihan
Hanya kekata perisai angan tak kesampaian
:benarkah ia yang tercinta, telah pulang ke keabadian?

Ngantang, 25 Maret 2016

Selasa, 29 Maret 2016

Lembah Aksara: kumpulan prosa dan puisi pilihan

Assalamualaikum, Sahabat...
Dibuka pre order buku hasil event perdana Komunitas Ayo Menulis.
Judul: Lembah Aksara
Penulis: Sahabat KAM, 2016
Penerbit: Goresan Pena
ISBN: 978-602-364-083-6
Tebal: viii + 186 hal ; 13x19 cm

Harga umum: Rp. 45.000,- (belum ongkir)
Harga penulis: Rp. 40.000,- (belum ongkir)
Penulis juga bisa memesan piagam cetak dengan harga Rp. 7.000,-

Untuk pemesanan, silakan inbox akun Melia Shena.

"Larik demi larik aksara teruntai
Merajut aksara pada rinduan
Lembah aksara saksi bisu kesedihan
Hanya kekata perisai angan tak kesampaian
:benarkah ia yang tercinta, telah pulang ke keabadian?"



Senin, 28 Maret 2016

Puisi Melia Shena: Munajat Rindu

Munajat Rindu
~Melia Shena~

Senja ini, langit masih sama seperti senja tiga puluh enam bulan yang lalu
Ketika merahnya menggurat kepedihan mendalam, perih hingga ke dasar kalbu
Merah yang sama, menggeliatkan ingatan tentang kekasih yang telah bertahta nun jauh di antara tingginya langit biru
Tak tersentuh oleh pilu, tak terjangkau oleh rindu
Hanya ribuan dedoa yang dapat menghampir ke atas sana
Menuju gugusan keabadian
Munajat rindu yang selalu terlantun
Merenda harap agar dia kekal dalam damai di alam sana
Meski tiada bersua, biarlah asalkan dia bahagia

Ngantang, 29 Maret 2016