Melia Shena adalah penulis novel remaja “Di Tepian Serayu”, novel “Soul of Ramadhan”, buku kumpulan puisi “Sajak-sajak Anak Bangsa”, buku kumpulan cerpen "Jejak Pengabdian", dan novel anak-anak berjudul “Misteri Liontin Giok”.
Rabu, 30 November 2016
Senin, 31 Oktober 2016
Puisi Ujian Sekolah
Pagi
memanggil
Rintik
gerimis mengundang atis
Namun
bukan itu yang membuatku gigil
Selembar
uji tengah menanti
Pun
nilai hendak dikaji
Namun
aku belum siap uji
Masih
terus bermalas diri
Masa
kemarin pun enggan datang lagi
Meski
untuk benahi diri
Yang
tinggal sesal berselimut sedih
Hadapi
uji hanya bermodal nyali, bertaruh nilai
Andai
waktu bisa kembali
Ingin
ku menaruh malas di dalam peti
Lalu
kubuang, tak hendak lagi kusinggahi
Agar
tak ada lagi nilai mati
Agar
tak malu pada tempat ku berbakti
Agar
mampu kutunjukkan baktiku pada negeri
Ngantang,
4 September 2015
Rabu, 19 Oktober 2016
Sicilia, Cinta, dan Dua Aroma
Kebumen, enam belas tahun yang lalu
Perempuan berkaca mata itu terisak. Wajah pucatnya berlinang air mata saat menyerahkan bayi mungil ke tangan Mbok Darmiasih. Sissy adalah satu-satunya alasan Erika tetap hidup hingga saat ini. Tak tega rasanya memberikan putri kesayangan kepada orang lain yang kelak entah akan dapat dilihatnya lagi atau tidak.
“Namanya Sicilia Hartanti,” ucapnya. Ya, bayi mungil itu bernama sama seperti tempat dia dilahirkan, Pulau Sicilia. Erika mencium kening bayi mungil itu dan memeluk erat, seakan enggan dilepaskannya.
Erina menepuk pundaknya, mengingatkan bahwa mereka tak bisa lagi berlama-lama di tempat itu. David dan gerombolannya sudah mulai memasuki rumah sakit, sedangkan kondisi Erika belum begitu sehat sehingga harus menggunakan kursi roda.
“Ayo, Erika! Mereka sudah datang! Aku janji, kita akan kembali lagi ke sini. Untuk sementara, Sissy lebih aman jika tinggal bersama Mbok Darmi.”
Erika mengangguk pelan sambil menutup wajahnya dengan masker dan mengenakan wig. Berdua, mereka meninggalkan bayi itu dalam dekapan Mbok Darmi, seorang yang baru saja dikenalnya. Mereka berdua berharap, semoga di tangan wanita dari Desa Serayu itu kehidupan Sissy akan bisa lebih baik.
***
Erina menegakkan kerah jaketnya hingga menutupi leher. Dingin terasa menusuk tulang. Ya, dingin bulan Desember yang selalu dibencinya. Bukan hanya karena hujan. Bagi Erina, Desember bukan hanya tentang hujan dan salju. Tapi juga tentang luka.
Desember tahun ini menambah panjang daftar kesedihan Erina. Satu-satunya kerabat mengembuskan nafas terakhir di tempat asing yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya.
“Erina, kau tahu, aku tak pernah sedikit pun peduli terhadap kehidupanku. Tak mengapa jika harus mati. Bagiku, kehidupan sudah lama pergi sejak berpisah dengan Sissy. Ah ... dia pasti tengah bahagia saat ini bersama keluarga barunya. Pesanku, Erina. Jika hari ini memang sudah tiba waktuku bertemu Sang Pencipta, aku harap kau mau menjaga Sissy baik-baik. Pastikan kehidupannya selalu aman dan damai, entah bagaimana caranya. Aku tak mau keberadaannya diketahui oleh Alfonso. Berjanjilah padaku, kau akan menjaga putri kecilku sebaik-baiknya.” Itulah pesan terakhir Erika—kakaknya—sebelum mengembuskan nafas terakhir karena terlalu banyak luka dalam menghadapi kawanan pengedar ganja di Palermo, Sisilia.
Amanah terakhir itulah yang kini membawanya ke Serayu, sebuah desa terpencil dengan akses keluar masuk yang sulit. Jarang sekali ada kendaraan umum yang menuju ke sana. Apalagi pada bulan-bulan basah seperti sekarang ini.
Setiap musim hujan tiba, satu-satunya jalan menuju ke desa itu akan tertutup lumpur tebal dari ladang brambang (bawang merah) di kiri kanan jalan. Erina lagi-lagi mengeluh. “Orang-orang serakah tak berperikemanusiaan. Cepat sekali mereka habiskan hutan lebat ini. Mereka pikir desa bisa aman dari bencana banjir jika resapan air berubah menjadi akar-akar brambang serapuh ini?”
Ya, Serayu adalah desa yang dikepung hutan dan bukit. Jalan menuju desa sejauh delapan kilometer dulunya merupakan hutan lebat yang ditumbuhi pohon jati. Namun sejak beberapa tahun terakhir, penebangan liar semakin marak, menyebabkan hutan yang dulu rindang menjadi gundul. Tanahnya yang subur dimanfaatkan penduduk untuk menanam brambang yang harganya mulai meroket.
“Apalah artinya kekayaan karena brambang, jika tempat tinggal mereka dipertaruhkan?” gumam Erina. Kekhawatiran yang beralasan. Selama ini, air hujan diserap sempurna oleh pohon-pohon di hutan. Sungai-sungai bawah tanah yang terbentuk menjadi cadangan air di musim kemarau, menghindarkan desa dari kekeringan. Juga menghindarkan desa dari musibah banjir saat musim hujan tiba.
Bagaimana kelanjutan kisah Sicilia? Baca selengkapnya di buku ini ^_^
Untuk pemesanan, hubungi aku melalui facebook Melia Shena.
Salam hangat,
Melia Shena
Perempuan berkaca mata itu terisak. Wajah pucatnya berlinang air mata saat menyerahkan bayi mungil ke tangan Mbok Darmiasih. Sissy adalah satu-satunya alasan Erika tetap hidup hingga saat ini. Tak tega rasanya memberikan putri kesayangan kepada orang lain yang kelak entah akan dapat dilihatnya lagi atau tidak.
“Namanya Sicilia Hartanti,” ucapnya. Ya, bayi mungil itu bernama sama seperti tempat dia dilahirkan, Pulau Sicilia. Erika mencium kening bayi mungil itu dan memeluk erat, seakan enggan dilepaskannya.
Erina menepuk pundaknya, mengingatkan bahwa mereka tak bisa lagi berlama-lama di tempat itu. David dan gerombolannya sudah mulai memasuki rumah sakit, sedangkan kondisi Erika belum begitu sehat sehingga harus menggunakan kursi roda.
“Ayo, Erika! Mereka sudah datang! Aku janji, kita akan kembali lagi ke sini. Untuk sementara, Sissy lebih aman jika tinggal bersama Mbok Darmi.”
Erika mengangguk pelan sambil menutup wajahnya dengan masker dan mengenakan wig. Berdua, mereka meninggalkan bayi itu dalam dekapan Mbok Darmi, seorang yang baru saja dikenalnya. Mereka berdua berharap, semoga di tangan wanita dari Desa Serayu itu kehidupan Sissy akan bisa lebih baik.
***
Erina menegakkan kerah jaketnya hingga menutupi leher. Dingin terasa menusuk tulang. Ya, dingin bulan Desember yang selalu dibencinya. Bukan hanya karena hujan. Bagi Erina, Desember bukan hanya tentang hujan dan salju. Tapi juga tentang luka.
Desember tahun ini menambah panjang daftar kesedihan Erina. Satu-satunya kerabat mengembuskan nafas terakhir di tempat asing yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya.
“Erina, kau tahu, aku tak pernah sedikit pun peduli terhadap kehidupanku. Tak mengapa jika harus mati. Bagiku, kehidupan sudah lama pergi sejak berpisah dengan Sissy. Ah ... dia pasti tengah bahagia saat ini bersama keluarga barunya. Pesanku, Erina. Jika hari ini memang sudah tiba waktuku bertemu Sang Pencipta, aku harap kau mau menjaga Sissy baik-baik. Pastikan kehidupannya selalu aman dan damai, entah bagaimana caranya. Aku tak mau keberadaannya diketahui oleh Alfonso. Berjanjilah padaku, kau akan menjaga putri kecilku sebaik-baiknya.” Itulah pesan terakhir Erika—kakaknya—sebelum mengembuskan nafas terakhir karena terlalu banyak luka dalam menghadapi kawanan pengedar ganja di Palermo, Sisilia.
Amanah terakhir itulah yang kini membawanya ke Serayu, sebuah desa terpencil dengan akses keluar masuk yang sulit. Jarang sekali ada kendaraan umum yang menuju ke sana. Apalagi pada bulan-bulan basah seperti sekarang ini.
Setiap musim hujan tiba, satu-satunya jalan menuju ke desa itu akan tertutup lumpur tebal dari ladang brambang (bawang merah) di kiri kanan jalan. Erina lagi-lagi mengeluh. “Orang-orang serakah tak berperikemanusiaan. Cepat sekali mereka habiskan hutan lebat ini. Mereka pikir desa bisa aman dari bencana banjir jika resapan air berubah menjadi akar-akar brambang serapuh ini?”
Ya, Serayu adalah desa yang dikepung hutan dan bukit. Jalan menuju desa sejauh delapan kilometer dulunya merupakan hutan lebat yang ditumbuhi pohon jati. Namun sejak beberapa tahun terakhir, penebangan liar semakin marak, menyebabkan hutan yang dulu rindang menjadi gundul. Tanahnya yang subur dimanfaatkan penduduk untuk menanam brambang yang harganya mulai meroket.
“Apalah artinya kekayaan karena brambang, jika tempat tinggal mereka dipertaruhkan?” gumam Erina. Kekhawatiran yang beralasan. Selama ini, air hujan diserap sempurna oleh pohon-pohon di hutan. Sungai-sungai bawah tanah yang terbentuk menjadi cadangan air di musim kemarau, menghindarkan desa dari kekeringan. Juga menghindarkan desa dari musibah banjir saat musim hujan tiba.
Bagaimana kelanjutan kisah Sicilia? Baca selengkapnya di buku ini ^_^
Untuk pemesanan, hubungi aku melalui facebook Melia Shena.
Salam hangat,
Melia Shena
Senin, 08 Agustus 2016
Info Terbit Gratis Komunitas Ayo Menulis dan Goresan Pena Publishing
Assalamualaikum, Sahabat...
Sudah siap untuk kegiatan menulis tahap tiga?
Kali ini, Komunitas Ayo Menulis bekerja sama dengan Goresan pena Publishing memberikan kesempatan kepada sahabat yang berkeinginan memiliki buku sendiri ataupun berdua dengan kawan yang disukai.
Syarat dan ketentuannya:
1. Bergabung dengan grup facebook Komunitas Ayo Menulis.
2. Karya buku tunggal atau duet (maksimal empat penulis dalam satu buku)
3. Tema bebas, tidak mengandung SARA dan pornografi.
4. Bukan hasil plagiasi. Belum pernah dimuat di media lainnya.
5. Gratis biaya penerbitan (lay out, editing satu tahap, desain cover satu kali revisi, dan pendaftaran isbn ke perpusnas).
6. Penulis wajib membeli minimal 10 eksemplar bukti terbit (free ongkir, free e-piagam).
Syarat naskah:
1. Diketik di Word A4 font Arial 11 spasi 1,5 justified.
2. Minimal 50 halaman, maksimal 150 halaman.
3. Naskah boleh berupa novel, cerpen, atau puisi.
4. Kirim ke email melia.shena37@gmail.com dengan subyek sama dengan nama file: KAM(3)_Jenis Naskah_Judul_Nama Penulis
Contoh: KAM(3)_Novel_Rindu_Shena
Buku hasil kegiatan menulis ini nantinya akan dipromosikan secara online melalui facebook, instagram, dan web meliashena.blogspot.com
Tertarik? Ayo segera menulis, siapkan karya terbaik kalian...
Naskah kalian aku tunggu sampai akhir September ya... Masih ada banyak waktu. Yuk, nulis...
Sudah siap untuk kegiatan menulis tahap tiga?
Kali ini, Komunitas Ayo Menulis bekerja sama dengan Goresan pena Publishing memberikan kesempatan kepada sahabat yang berkeinginan memiliki buku sendiri ataupun berdua dengan kawan yang disukai.
Syarat dan ketentuannya:
1. Bergabung dengan grup facebook Komunitas Ayo Menulis.
2. Karya buku tunggal atau duet (maksimal empat penulis dalam satu buku)
3. Tema bebas, tidak mengandung SARA dan pornografi.
4. Bukan hasil plagiasi. Belum pernah dimuat di media lainnya.
5. Gratis biaya penerbitan (lay out, editing satu tahap, desain cover satu kali revisi, dan pendaftaran isbn ke perpusnas).
6. Penulis wajib membeli minimal 10 eksemplar bukti terbit (free ongkir, free e-piagam).
Syarat naskah:
1. Diketik di Word A4 font Arial 11 spasi 1,5 justified.
2. Minimal 50 halaman, maksimal 150 halaman.
3. Naskah boleh berupa novel, cerpen, atau puisi.
4. Kirim ke email melia.shena37@gmail.com dengan subyek sama dengan nama file: KAM(3)_Jenis Naskah_Judul_Nama Penulis
Contoh: KAM(3)_Novel_Rindu_Shena
Buku hasil kegiatan menulis ini nantinya akan dipromosikan secara online melalui facebook, instagram, dan web meliashena.blogspot.com
Tertarik? Ayo segera menulis, siapkan karya terbaik kalian...
Naskah kalian aku tunggu sampai akhir September ya... Masih ada banyak waktu. Yuk, nulis...
Kamis, 14 Juli 2016
Puisi: Lukisan Fajar
Lukisan Fajar (1)
~Melia Shena~
Semburat merah di ufuk timur
Mengundang kokok ayam jantan ; riuh
Menyambut sang fajar dengan senyumnya ramah
Menanti matahari pagi ; harapan baru sambut hari ini
Kaki-kaki kecil bangun, semarakkan pagi
Berlarian di antara semak menuju sungai
Air dingin tiada surutkan niat di hati
Mandi pagi, lalu bergegas rapikan diri
Siapkan hati, bulatkan tekad
Menuntut ilmu t’lah jadi niat
Demi masa depan gemilang
Demi nasib keluarga yang semakin mapan
Ngantang, 14 Juni 2016
~Melia Shena~
Semburat merah di ufuk timur
Mengundang kokok ayam jantan ; riuh
Menyambut sang fajar dengan senyumnya ramah
Menanti matahari pagi ; harapan baru sambut hari ini
Kaki-kaki kecil bangun, semarakkan pagi
Berlarian di antara semak menuju sungai
Air dingin tiada surutkan niat di hati
Mandi pagi, lalu bergegas rapikan diri
Siapkan hati, bulatkan tekad
Menuntut ilmu t’lah jadi niat
Demi masa depan gemilang
Demi nasib keluarga yang semakin mapan
Ngantang, 14 Juni 2016
Minggu, 10 Juli 2016
Cerpen: Seragam Kinan
“Kinan! Nanti jangan pulang dulu ya? Usai pengumuman kelulusan, kita rayakan bersama di belakang sekolah. Teman-teman sudah menyiapkan pilox juga lho,” ucap Rana.
Kinanti tertegun mendengar ucapan sahabatnya. “Bukannya kita belum tahu nantinya akan lulus atau enggak, kok sudah nyiapin pilox segala?”
“Aah… pasti lulus semua lah… Sekolah kita ini termasuk sekolah unggulan kan? Sudah pokoknya nanti jangan lupa ya, aku tunggu di belakang sekolah!” ujar Rana setengah berteriak. Anak lelaki yang sudah beranjak remaja itu berlari meninggalkan Kinanti yang masih terdiam di tempatnya, menyusul teman-temannya yang mendapat tumpangan gratis sebuah mobil pick up untuk pulang.
Kinanti belum beranjak dari tempat duduknya. Banyak hal yang berkecamuk dalam hati. Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan SMP Negeri I tempatnya menempuh pendidikan selama tiga tahun. Kepala sekolah dan dewan guru sepakat menyampaikan pengumuman pukul 13.00, dan siswa harus didampingi oleh orangtua masing-masing. Hal tersebut untuk menghindari perilaku negatif siswa yang mungkin akan mengadakan konvoi, corat-coret seragam dan hal-hal negatif lainnya.
Tapi yang namanya remaja, selalu ada saja cara mereka untuk lepas dari pengawasan orangtua dan merayakan kelulusan dengan mencoret-coret pakaian. Hal itulah yang kini tengah dirisaukan Kinanti.
Seragam sekolah yang dipakainya sudah lusuh. Warna putihnya sudah mulai pudar sejak dia memakainya tiga tahun lalu. namun seragam itu tak pernah diganti dengan yang baru. Seragam lusuh itu yang menjadi saksi perjalanan Kinanti selama tiga tahun ini, dan Kinanti tak rela jika seragam ini nantinya harus dicoret-coret oleh kawan-kawannya.
Diliriknya jarum jam pada arloji yang melingkar di tangan kirinya. Masih pukul sepuluh seperempat. Siswa kelas sembilan hampir semuanya telah pulang ke rumah masing-masing, kembali ke sekolah lagi nanti, saat pengumuman pukul 13.00. Masih sekitar tiga jam lagi.
Waktu berlalu, Kinanti semakin gelisah. Seragam yang dikenakannya itu sangat disayanginya. Bukan hanya karena menjadi saksi perjuangannya selama tiga tahun ini. Bukan. Lebih dari itu, seragam ini adalah satu-satunya seragam peninggalan Karina, kakak semata wayangnya yang telah meninggal karena kecelakaan pada saat pulang sekolah.
Peristiwa itu terjadi empat tahun yang lalu. Hari terakhir Ujian Nasional SMP. Karina yang lincah dan cerdas telah selesai mengerjakan soal-soal ujiannya. Gembira hatinya karena semua soal yang diujikan sesuai dengan materi yang telah dipelajari dan dihapalkannya selama ini. Dengan canda tawa dia menunggu bus untuk pulang bersama kawan-kawannya. Namun malang tak dapat ditolak. Sebuah truk bermuatan berat melintas dengan cepat di depan sekolah, tepat ketika gadis manis itu menyeberang.
Karina yang malang, tubuhnya terlindas truk yang langsung melarikan diri itu. Gadis manis itu meninggal dunia seketika. Seragamnya berlumuran darah dan sobek-sobek di beberapa bagian.
Beberapa hari kemudian, pengumuman kelulusan menjadi hari paling menyedihkan di SMP Negeri I. Karina menorehkan nilai terbaik di sekolahnya, sedangkan dia sendiri telah tiada.
Seragam Karina menjadi saksi tiga tahun dia belajar di SMP. Seragam itu pula yang kini dikenakan Kinanti, menjadi saksi bisu perjuangannya menyelesaikan pendidikan dasar di SMP Negeri I. Takkan dibiarkannya anak-anak itu nanti mencoret-coret seragamnya, seragam Karina.
“Kinanti, kok belum pulang?” tanya seseorang di belakangnya. Kinanti menoleh.
“Bu Ratna? Ibu sudah mau pulang juga?” Bu Ratna adalah tetangga dekat Kinanti. Rumah beliau hanya berjarak kurang lebih dua puluh meter dari rumah Kinanti.
“Belum, Bu. Masih belum dapat bus,” jawab Kinan.
“Lho, bukannya dari tadi ada banyak bus yang lewat ke arah timur?”
“Mereka tak mau mengangkut anak berseragam, Bu. Mungkin karena kami bayar karcis hanya separuh harga.”
“Oh, iya juga ya,” gumam Bu Ratna. “Kalau begitu, ayo bareng mobil saya saja. Kita kan searah,” ajak Bu Ratna. Tapi Kinanti menolak ajakan ibu gurunya.
“Enggak usah, Bu, terima kasih. Saya nanti bisa pulang sendiri kok,” jawabnya.
“Tapi kamu mau bareng siapa sudah sepi begini?”
“Bentar lagi ada teman yang mau jemput saya kok, Bu.”
“Ya sudah, saya duluan ya… Sampai jumpa pukul satu siang nanti, Kinan!”
“Iya, Bu. Sampai jumpa!” jawab Kinan lirih.
Gadis kecil itu kemudian berdiri dari tempat duduknya, menyeberang, dan terus berjalan. Menjauhi Rana, menjauhi sekolahnya. Rasa takut kehilangan seragam itu telah menjalar ke seluruh tubuhnya. Menggigil, langkah kakinya semakin cepat menuju rerimbunan pinus di seberang jalan. Terus dan terus berlari, tak dihiraukannya onak duri melukai kaki, tak dirasakannya lelah dan gemetar di sekujur tubuhnya. “Mereka tak boleh merusak seragam ini. Seragam peninggalan Karina, seragam yang selalu ingin kupakai untuk mewujudkan impiannya sejak dulu.”
Waktu berlalu. Jarum jam menunjukkan pukul 13.00. siswa-siswi SMPN 01 telah berkumpul di aula didampingi orangtua masing-masing.
“Alhamdulillah, pada tahun ini siswa-siswa SMP Negeri 01 lulus seratus persen.” Ucapan Bapak Kepala Sekolah disambut meriah oleh seisi aula.
“Ujian Nasional tahun ini juga spesial bagi kita. Kenapa? Karena, sekali lagi, salah seorang siswa SMP ini menorehkan tinta emas, mendapat nilai terbaik di Kabupaten Malang. Siswa ini juga merupakan adik kandung dari ananda Karina almarhumah, yang dulu pernah mengharumkan nama SMP negeri ini dengan prestasinya, meski saat itu kita harus berduka karena kehilangannya. Baiklah, saya panggil saja, peraih nilai tertinggi Ujian Nasional tahun ini, Kinanti Larasati!”
Tepuk tangan bergemuruh dalam ruang berukuran seratus dua puluh meter persegi itu. Seluruh siswa mengelu-elukan nama Kinanti. Namun dia yang dinanti seluruh warga sekolah belum juga menampakkan batang hidungnya.
“Ananda Kinanti saya mohon naik ke atas podium untuk menerima penghargaan.”
Seisi aula hening, menunggu gadis mungil yang kini mendapat predikat sebagai siswi terbaik se-kabupaten. Tak ada Kinanti di sudut mana pun di ruangan itu, hanya ada seorang wanita paruh baya yang berdiri dari tempat duduknya. Bu Narmi.
“Maaf, Bapak Kepala Sekolah. Anak saya Kinanti, belum pulang dari sekolah sejak pagi tadi.”
Hening mencekam. Wajah bapak kepala sekolah pucat. Kenangan buruk masa lalu sekolah itu seakan terpampang di hadapan setiap orang. Mungkinkah sejarah berulang? Karina yang meninggal saat meraih nilai terbaik di kabupaten, dan sekarang Kinanti adiknya, menghilang di saat dia meraih nilai tertinggi.
Rana gemetar, pilox yang ada dalam genggaman dilemparkannya sejauh mungkin. “Seragam itu… Pasti Kinanti pergi karena seragamnya hendak dicoret-coret dengan pilox. Ya, itu seragam kakaknya. Seragam dengan beberapa jahitan dan warna putih yang memudar. Dia mengenakannya sejak awal masuk sekolah. Bukankah setiap siswa mendapat jatah pakaian baru? Dia tak pernah memakai seragam baru. Itu seragam Karina, kakaknya. Begitu kan, Bu Narmi?” teriaknya.
Bu Narmi terisak. “Jadi kalian semua berencana mencoret-coret seragam hari ini? Bukankah sudah ada himbauan dari sekolah agar tak ada siswa yang mencoret-coret seragamnya? Iya, Kinanti memang tak pernah memakai seragam barunya. Seragam itu sudah disumbangkannya ke panti asuhan.”
Jauh dari sekolah itu, tampak seorang gadis kecil berjalan terseok-seok di antara pasir pantai selatan. Embusan angin dan riak-riak air laut tak dihiraukannya. Yang dia tahu hanya satu, menyelamatkan seragam kakaknya dari noda dan coretan-coretan pilox. “Sudah cukup, merah darah yang menodai seragammu, Kak Karin. Tak akan kubiarkan lagi orang-orang menodai seragam ini. Tidak lagi.” Kinanti berjalan semakin jauh ke arah laut.
Tiga hari kemudian, jasad gadis mungil itu ditemukan beberapa nelayan yang sedang melaut. Ya, Kinanti ditemukan tenggelam di laut selatan dengan seragam yang anehnya tampak baru dan putih bersih. Wajahnya pun tampak tersenyum. Ah… mungkin karena dia bangga telah berhasil menyelamatkan seragam kakaknya.[]
Kinanti tertegun mendengar ucapan sahabatnya. “Bukannya kita belum tahu nantinya akan lulus atau enggak, kok sudah nyiapin pilox segala?”
“Aah… pasti lulus semua lah… Sekolah kita ini termasuk sekolah unggulan kan? Sudah pokoknya nanti jangan lupa ya, aku tunggu di belakang sekolah!” ujar Rana setengah berteriak. Anak lelaki yang sudah beranjak remaja itu berlari meninggalkan Kinanti yang masih terdiam di tempatnya, menyusul teman-temannya yang mendapat tumpangan gratis sebuah mobil pick up untuk pulang.
Kinanti belum beranjak dari tempat duduknya. Banyak hal yang berkecamuk dalam hati. Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan SMP Negeri I tempatnya menempuh pendidikan selama tiga tahun. Kepala sekolah dan dewan guru sepakat menyampaikan pengumuman pukul 13.00, dan siswa harus didampingi oleh orangtua masing-masing. Hal tersebut untuk menghindari perilaku negatif siswa yang mungkin akan mengadakan konvoi, corat-coret seragam dan hal-hal negatif lainnya.
Tapi yang namanya remaja, selalu ada saja cara mereka untuk lepas dari pengawasan orangtua dan merayakan kelulusan dengan mencoret-coret pakaian. Hal itulah yang kini tengah dirisaukan Kinanti.
Seragam sekolah yang dipakainya sudah lusuh. Warna putihnya sudah mulai pudar sejak dia memakainya tiga tahun lalu. namun seragam itu tak pernah diganti dengan yang baru. Seragam lusuh itu yang menjadi saksi perjalanan Kinanti selama tiga tahun ini, dan Kinanti tak rela jika seragam ini nantinya harus dicoret-coret oleh kawan-kawannya.
Diliriknya jarum jam pada arloji yang melingkar di tangan kirinya. Masih pukul sepuluh seperempat. Siswa kelas sembilan hampir semuanya telah pulang ke rumah masing-masing, kembali ke sekolah lagi nanti, saat pengumuman pukul 13.00. Masih sekitar tiga jam lagi.
Waktu berlalu, Kinanti semakin gelisah. Seragam yang dikenakannya itu sangat disayanginya. Bukan hanya karena menjadi saksi perjuangannya selama tiga tahun ini. Bukan. Lebih dari itu, seragam ini adalah satu-satunya seragam peninggalan Karina, kakak semata wayangnya yang telah meninggal karena kecelakaan pada saat pulang sekolah.
Peristiwa itu terjadi empat tahun yang lalu. Hari terakhir Ujian Nasional SMP. Karina yang lincah dan cerdas telah selesai mengerjakan soal-soal ujiannya. Gembira hatinya karena semua soal yang diujikan sesuai dengan materi yang telah dipelajari dan dihapalkannya selama ini. Dengan canda tawa dia menunggu bus untuk pulang bersama kawan-kawannya. Namun malang tak dapat ditolak. Sebuah truk bermuatan berat melintas dengan cepat di depan sekolah, tepat ketika gadis manis itu menyeberang.
Karina yang malang, tubuhnya terlindas truk yang langsung melarikan diri itu. Gadis manis itu meninggal dunia seketika. Seragamnya berlumuran darah dan sobek-sobek di beberapa bagian.
Beberapa hari kemudian, pengumuman kelulusan menjadi hari paling menyedihkan di SMP Negeri I. Karina menorehkan nilai terbaik di sekolahnya, sedangkan dia sendiri telah tiada.
Seragam Karina menjadi saksi tiga tahun dia belajar di SMP. Seragam itu pula yang kini dikenakan Kinanti, menjadi saksi bisu perjuangannya menyelesaikan pendidikan dasar di SMP Negeri I. Takkan dibiarkannya anak-anak itu nanti mencoret-coret seragamnya, seragam Karina.
“Kinanti, kok belum pulang?” tanya seseorang di belakangnya. Kinanti menoleh.
“Bu Ratna? Ibu sudah mau pulang juga?” Bu Ratna adalah tetangga dekat Kinanti. Rumah beliau hanya berjarak kurang lebih dua puluh meter dari rumah Kinanti.
“Belum, Bu. Masih belum dapat bus,” jawab Kinan.
“Lho, bukannya dari tadi ada banyak bus yang lewat ke arah timur?”
“Mereka tak mau mengangkut anak berseragam, Bu. Mungkin karena kami bayar karcis hanya separuh harga.”
“Oh, iya juga ya,” gumam Bu Ratna. “Kalau begitu, ayo bareng mobil saya saja. Kita kan searah,” ajak Bu Ratna. Tapi Kinanti menolak ajakan ibu gurunya.
“Enggak usah, Bu, terima kasih. Saya nanti bisa pulang sendiri kok,” jawabnya.
“Tapi kamu mau bareng siapa sudah sepi begini?”
“Bentar lagi ada teman yang mau jemput saya kok, Bu.”
“Ya sudah, saya duluan ya… Sampai jumpa pukul satu siang nanti, Kinan!”
“Iya, Bu. Sampai jumpa!” jawab Kinan lirih.
Gadis kecil itu kemudian berdiri dari tempat duduknya, menyeberang, dan terus berjalan. Menjauhi Rana, menjauhi sekolahnya. Rasa takut kehilangan seragam itu telah menjalar ke seluruh tubuhnya. Menggigil, langkah kakinya semakin cepat menuju rerimbunan pinus di seberang jalan. Terus dan terus berlari, tak dihiraukannya onak duri melukai kaki, tak dirasakannya lelah dan gemetar di sekujur tubuhnya. “Mereka tak boleh merusak seragam ini. Seragam peninggalan Karina, seragam yang selalu ingin kupakai untuk mewujudkan impiannya sejak dulu.”
Waktu berlalu. Jarum jam menunjukkan pukul 13.00. siswa-siswi SMPN 01 telah berkumpul di aula didampingi orangtua masing-masing.
“Alhamdulillah, pada tahun ini siswa-siswa SMP Negeri 01 lulus seratus persen.” Ucapan Bapak Kepala Sekolah disambut meriah oleh seisi aula.
“Ujian Nasional tahun ini juga spesial bagi kita. Kenapa? Karena, sekali lagi, salah seorang siswa SMP ini menorehkan tinta emas, mendapat nilai terbaik di Kabupaten Malang. Siswa ini juga merupakan adik kandung dari ananda Karina almarhumah, yang dulu pernah mengharumkan nama SMP negeri ini dengan prestasinya, meski saat itu kita harus berduka karena kehilangannya. Baiklah, saya panggil saja, peraih nilai tertinggi Ujian Nasional tahun ini, Kinanti Larasati!”
Tepuk tangan bergemuruh dalam ruang berukuran seratus dua puluh meter persegi itu. Seluruh siswa mengelu-elukan nama Kinanti. Namun dia yang dinanti seluruh warga sekolah belum juga menampakkan batang hidungnya.
“Ananda Kinanti saya mohon naik ke atas podium untuk menerima penghargaan.”
Seisi aula hening, menunggu gadis mungil yang kini mendapat predikat sebagai siswi terbaik se-kabupaten. Tak ada Kinanti di sudut mana pun di ruangan itu, hanya ada seorang wanita paruh baya yang berdiri dari tempat duduknya. Bu Narmi.
“Maaf, Bapak Kepala Sekolah. Anak saya Kinanti, belum pulang dari sekolah sejak pagi tadi.”
Hening mencekam. Wajah bapak kepala sekolah pucat. Kenangan buruk masa lalu sekolah itu seakan terpampang di hadapan setiap orang. Mungkinkah sejarah berulang? Karina yang meninggal saat meraih nilai terbaik di kabupaten, dan sekarang Kinanti adiknya, menghilang di saat dia meraih nilai tertinggi.
Rana gemetar, pilox yang ada dalam genggaman dilemparkannya sejauh mungkin. “Seragam itu… Pasti Kinanti pergi karena seragamnya hendak dicoret-coret dengan pilox. Ya, itu seragam kakaknya. Seragam dengan beberapa jahitan dan warna putih yang memudar. Dia mengenakannya sejak awal masuk sekolah. Bukankah setiap siswa mendapat jatah pakaian baru? Dia tak pernah memakai seragam baru. Itu seragam Karina, kakaknya. Begitu kan, Bu Narmi?” teriaknya.
Bu Narmi terisak. “Jadi kalian semua berencana mencoret-coret seragam hari ini? Bukankah sudah ada himbauan dari sekolah agar tak ada siswa yang mencoret-coret seragamnya? Iya, Kinanti memang tak pernah memakai seragam barunya. Seragam itu sudah disumbangkannya ke panti asuhan.”
Jauh dari sekolah itu, tampak seorang gadis kecil berjalan terseok-seok di antara pasir pantai selatan. Embusan angin dan riak-riak air laut tak dihiraukannya. Yang dia tahu hanya satu, menyelamatkan seragam kakaknya dari noda dan coretan-coretan pilox. “Sudah cukup, merah darah yang menodai seragammu, Kak Karin. Tak akan kubiarkan lagi orang-orang menodai seragam ini. Tidak lagi.” Kinanti berjalan semakin jauh ke arah laut.
Tiga hari kemudian, jasad gadis mungil itu ditemukan beberapa nelayan yang sedang melaut. Ya, Kinanti ditemukan tenggelam di laut selatan dengan seragam yang anehnya tampak baru dan putih bersih. Wajahnya pun tampak tersenyum. Ah… mungkin karena dia bangga telah berhasil menyelamatkan seragam kakaknya.[]
Jumat, 13 Mei 2016
Info event terbaru Komunitas Ayo Menulis
Assalamualaikum, Sahabat...
Dibuka kegiatan menulis bersama tahap 2 bersama Komunitas Ayo Menulis, cerpen tema perempuan, puisi tema pendidikan. Syarat naskah:
Cerpen: ukuran kertas A4, font TNR 12 spasi 1,5 justified pake tabulasi. Perhatikan baik-baik untuk penggunaan EYD/EBI. Maksimal 10 halaman untuk satu judul, boleh mengirimkan 2 naskah cerpen terbaik.
Puisi: ukuran kertas A4, font TNR 12 spasi 1,5 maksimal 20 baris dalam satu judul. Boleh mengirimkan 5 naskah puisi. Kirim ke email melia.shena37@gmail.com
Jangan lupa biodata narasi dan foto terbaru kalau ada. Deadline 30 Mei 2016.
Reward 2 buku untuk 2 naskah terbaik. Seluruh kontributor mendapat e-piagam dan diskon minimal 10% untuk pembelian buku terbit.
Ayo segera kirimkan karya terbaikmu ya...
Langganan:
Postingan (Atom)

















